SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi— Upaya menyelamatkan naskah kuno yang menjadi bagian dari sejarah Kota Sukabumi mulai diperkuat. Hal ini ditandai dengan langkah Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Kota Sukabumi yang menggelar Sosialisasi Identifikasi, Pendaftaran, dan Digitalisasi Naskah Kuno Nusantara 2026, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai 3 Dispusipda Kota Sukabumi dengan menghadirkan filolog Ilham Nurwansah sebagai pemateri. Kepala Dispusipda Kota Sukabumi Olga Pragosta mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan literasi masyarakat sekaligus penyelamatan jejak sejarah yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno.
Menurut Olga, masih banyak potensi naskah kuno di Kota Sukabumi yang belum teridentifikasi. Sehingga, Dispusipda mengundang sejumlah lembaga yang dinilai memiliki kemungkinan menyimpan naskah berusia puluhan tahun.
“Di Kota Sukabumi itu banyak sekali sejarah yang ada, tetapi mungkin belum teridentifikasikan. Hari ini kita mengundang beberapa lembaga yang menurut persepsi kami pasti di lembaga tersebut terdapat naskah-naskah kuno yang mungkin bisa kita selamatkan,” ujar Olga. Sejumlah lembaga yang dilibatkan antara lain lembaga pendidikan dan pelatihan Polri, rumah sakit, museum, pesantren, yayasan, serta lembaga lain yang telah berdiri lebih dari 50 tahun.
Olga mengatakan, beberapa naskah telah didata dan pemiliknya bersedia menyerahkan informasi mengenai naskah tersebut untuk didaftarkan.
<span;>Dalam kegiatan itu, setidaknya tujuh naskah kuno telah tercatat dalam proses pendataan awal.

“Yang sertifikatnya sudah diserahkan itu beberapa yang sudah menyerahkan dan rela memberikan data naskah kunonya untuk kita daftarkan,” terang Olga. Selain pendataan, Dispusipda juga mendorong digitalisasi sebagai langkah untuk menjaga naskah kuno dari kerusakan.
Naskah yang telah berusia lebih dari 50 tahun dinilai memiliki nilai sejarah yang penting. Namun, kondisi fisik naskah dapat menurun seiring waktu sehingga diperlukan upaya penyelamatan dalam bentuk digital.
“Naskah ini mungkin masih ada yang tersimpan dengan baik, tetapi ada juga yang sudah mulai rusak. Nah, yang rusak-rusak ini juga kita coba antisipasi untuk diselamatkan dengan didigitalisasikan,” kata Olga. Digitalisasi diharapkan membuat informasi yang terkandung dalam naskah tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya, meskipun kondisi fisik naskah mengalami kerusakan.
Dispusipda Kota Sukabumi juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang memiliki atau menemukan naskah yang diduga sebagai naskah kuno. Pemilik dapat menghubungi Dispusipda untuk dilakukan pemeriksaan awal.
Selanjutnya, Dispusipda akan melibatkan ahli filologi untuk memastikan karakteristik dan kategori naskah tersebut. “Karena tentu saja tidak semua orang memiliki kompetensi untuk menilai bahwa naskah ini masuk ke dalam kategori naskah kuno,” ujar Olga.
Ke depan, Dispusipda menargetkan adanya penambahan data naskah kuno dari berbagai sumber di Kota Sukabumi. Jika pemilik bersedia, naskah tersebut dapat didaftarkan ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas) sebagai bagian dari khazanah naskah nasional.
Dengan langkah tersebut, naskah-naskah yang selama ini mungkin tersimpan di rumah, pesantren, yayasan, maupun lembaga lama di Kota Sukabumi tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga memiliki dokumentasi digital dan data yang lebih terstruktur.
