SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi—Pemkot Sukabumi mengintensifkan pelacakan atau tracing tuberkulosis (TBC) untuk menemukan kasus lebih dini sekaligus memutus rantai penularan di masyarakat. Dari target 9.300 orang yang akan diperiksa, hingga Selasa (20/10/2026), pelacakan baru menjangkau sekitar 4.000 orang.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui peninjauan pelaksanaan tracing TBC terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kelurahan Tipar, Kecamatan Citamiang. Pada kesempatan yang sama, Pemkot Sukabumi juga menyerahkan kendaraan Puskesmas Keliling (Pusling) secara simbolis.
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki mengatakan, pemerintah berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, termasuk memastikan warga yang terdiagnosis TBC mendapatkan pengobatan secara gratis hingga tuntas. “Kalau ditemukan masyarakat yang terkena TBC, akan kita rawat dan diberi obat sampai tuntas. Pengobatannya gratis sampai sembuh,” katanya.
Menurut Ayep, masyarakat perlu memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan agar penyakit TBC dapat diketahui lebih awal dan segera ditangani. Langkah ini juga penting untuk mencegah penularan kepada orang-orang di sekitar pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi Ida Halimah menjelaskan, kegiatan tracing TBC difokuskan pada orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien yang telah teridentifikasi positif TBC, terutama anggota keluarga yang tinggal dalam satu lingkungan.“Ketika dalam satu keluarga ada yang teridentifikasi TBC, lingkaran terdekatnya, terutama keluarga, akan kita periksa. Jika ditemukan yang positif, langsung ditindaklanjuti dengan pengobatan gratis sampai tuntas,” ujarnya.
Ida menyebutkan, kegiatan di Kelurahan Tipar merupakan lokasi ke-40 dari total 93 lokasi yang menjadi sasaran program. Setiap lokasi ditargetkan menjangkau sekitar 100 orang, sehingga secara keseluruhan terdapat 9.300 orang yang menjadi sasaran pelacakan.
Dari hasil pemeriksaan terhadap 43 orang yang disebutkan dalam pemantauan tersebut, positive rate atau proporsi hasil pemeriksaan positif tercatat sebesar 6,7 persen.
Upaya penanganan TBC terang Ida tidak berhenti pada penemuan kasus. Pasien yang teridentifikasi harus segera mendapatkan pengobatan dan pemantauan hingga dinyatakan sembuh sesuai evaluasi medis.
Menurut Ida, penemuan kasus melalui pelacakan kontak erat menjadi penting karena penderita yang belum terdeteksi berpotensi terus menularkan penyakit kepada orang lain dalam aktivitas sehari-hari.“Ketika ditemukan, yang lebih penting adalah tindak lanjut pengobatannya sampai tuntas. Jangan sampai ada yang belum terdeteksi, padahal dalam kesehariannya berpotensi menularkan,” katanya.
Ida menambahkan, sejumlah wilayah kerja puskesmas menjadi perhatian dalam pemetaan kasus TBC di Kota Sukabumi, di antaranya wilayah Puskesmas Sukabumi yang meliputi Cisarua dan Subangjaya.Pemkot Sukabumi berharap integrasi pelacakan TBC dengan Cek Kesehatan Gratis dapat memperluas jangkauan pemeriksaan, mempercepat penanganan pasien, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri.
Melalui upaya tersebut, pemerintah daerah menargetkan semakin banyak kasus TBC ditemukan lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat dan risiko penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat dapat ditekan.
