SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi—Produksi sampah di Kota Sukabumi tercatat mengalami kenaikan dari 187 ton menjadi 190 ton per hari. Pada kondisi tertentu seperti akhir pekan dan libur panjang, volume sampah bahkan diperkirakan dapat menembus 200 ton per hari.
Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengatakan, peningkatan volume sampah tersebut menjadi tantangan serius yang harus segera ditangani secara menyeluruh melalui pendekatan kolaboratif lintas perangkat daerah. “Ini kita serius, penanganan sampah harus habis-habisan. Kita kolaborasi semua OPD,” ujarnya dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirangkaikan dengan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 tingkat Kota Sukabumi di Lapang Merdeka, Sabtu (6/6/2026).
Bobby menjelaskan, Pemkot Sukabumi telah menyiapkan strategi penanganan sampah dalam tiga skema, yakni skala kecil, menengah, dan besar. Pada skala kecil, pemerintah fokus pada kebersihan lingkungan, termasuk pembersihan gulma dan ilalang serta penguatan tim sapu bersih pada malam hingga dini hari agar kondisi kota tetap bersih saat aktivitas masyarakat dimulai.
Sementara pada skala menengah lanjut Bobby Pemkot memperkuat edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat. Serta menertibkan keberadaan tempat pembuangan sementara (TPS) liar yang dinilai tidak sesuai aturan.
Pemerintah juga kata Bobby, mulai mendorong perubahan pola pengelolaan kawasan agar tidak lagi menjadi titik timbulan sampah baru. Adapun pada skala besar, Pemkot tengah mengkaji sejumlah opsi kerja sama untuk pembangunan instalasi pengolahan sampah berkapasitas 200 hingga 240 ton per hari.
Opsi tersebut mencakup skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), dukungan pemerintah provinsi, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk TNI. Bobby menegaskan, peningkatan volume sampah ini tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas ekonomi dan kunjungan ke Kota Sukabumi, yang turut berdampak pada bertambahnya timbulan sampah harian.
Dari total produksi 190 ton per hari, sekitar 132 ton di antaranya masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul. Sementara sisanya dikelola melalui pemilahan mandiri, bank sampah, maupun TPST.
Pemkot juga menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya. Warga diimbau untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, termasuk melalui pemanfaatan bank sampah, biopori, hingga pengolahan berbasis maggot.
” Selain itu, pemerintah menegaskan akan memperketat penertiban TPS liar seiring dengan kebijakan nasional yang mendorong sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan,” ungkap Bobby. Kementerian Lingkungan Hidup disebut telah memberikan perhatian khusus terhadap daerah yang belum optimal menjalankan kebijakan tersebut.
“Kalau tidak ada langkah nyata, bisa masuk ke tahap penegakan lebih lanjut. Karena itu kita harus bergerak dari sekarang,” ujar Bobby. Pemkot Sukabumi menargetkan pada 2027 sistem pengelolaan sampah terpadu dapat mulai beroperasi, sehingga mampu mengurangi tekanan terhadap TPA dan menekan laju timbulan sampah harian yang terus meningkat.
