SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan Kota dan Kabupaten Sukabumi merupakan kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan yang tinggi. BMKG mencatat, sejak 2025 hingga saat ini telah terjadi sekitar 188 kejadian gempa bumi di wilayah Sukabumi Raya, dengan 11 di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Data tersebut menunjukkan bahwa ancaman gempa di Sukabumi bukan sekadar potensi, melainkan risiko nyata yang harus diantisipasi melalui peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan Sukabumi dipengaruhi sejumlah sumber gempa aktif, mulai dari zona megathrust di selatan Pulau Jawa hingga keberadaan Sesar Cimandiri yang memiliki beberapa segmen aktif.
“Sukabumi merupakan wilayah yang memiliki potensi tinggi mengalami gempa bumi tektonik. Gempa tidak bisa diprediksi kapan terjadi maupun berapa besar kekuatannya. Yang bisa kita lakukan adalah memperkuat mitigasi melalui edukasi dan latihan secara berkelanjutan,” ujar Rahayu saat membuka Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) Kota Sukabumi Tahun 2026 di SMAN 3 Kota Sukabumi, Selasa (4/8/2026). Menurutnya, ancaman utama di Sukabumi berasal dari gempa tektonik, bukan aktivitas vulkanik. Selain dipengaruhi zona megathrust, wilayah ini juga berada di sekitar Sesar Cimandiri yang memiliki karakteristik pelepasan energi berbeda pada setiap segmennya.
Rahayu menjelaskan, satu segmen maupun beberapa segmen sesar dapat bergerak secara bersamaan sehingga menghasilkan kekuatan gempa dan dampak yang berbeda-beda. Karena itu, kesiapan masyarakat menjadi faktor paling penting untuk mengurangi risiko korban. “Setiap segmen memiliki potensi yang berbeda. Bisa bergerak satu segmen, dua segmen, bahkan seluruh segmen secara bersamaan sehingga kekuatan dan dampaknya juga tidak sama. Yang terpenting adalah kesiapan masyarakat,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, BMKG menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi untuk membekali masyarakat dengan pemahaman mengenai langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi. Latihan yang dilakukan secara rutin akan membantu masyarakat tetap tenang ketika menghadapi situasi darurat.
“Ketika gempa terjadi banyak orang bisa mengalami blank karena tidak terbiasa menghadapi situasi tersebut. Karena itu simulasi harus terus dilatih,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengatakan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kota Sukabumi. Edukasi kebencanaan akan terus diperluas melalui sekolah, pelatihan masyarakat, hingga pemanfaatan media sosial agar informasi mengenai penyelamatan diri semakin mudah dipahami.
“Yang paling penting sekarang adalah bagaimana masyarakat siap. Kalau sudah pernah mendapatkan edukasi dan latihan, minimal saat gempa terjadi masyarakat tahu apa yang harus dilakukan,” kata Bobby.
