Oleh : Ustadzah Tina Haryati S, M.Pd, CH, CHt (Founder Teras Muslimah, Daiyah Sukabumi, Penulis, Pengajar Madrasah dan Hypnotherapist)
Hidup sebagai Muslimah di zaman now itu ibarat main multitasking level ekstrem. Di satu sisi, kita dituntut punya karier cemerlang atau pendidikan tinggi, jadi ibu yang telaten, istri yang suportif, tapi di sisi lain, kita juga “terjebak” dalam scrolling media sosial yang bikin sering membandingkan hidup sendiri dengan orang lain.
Alhasil, kita sering merasa lelah, bukan cuma secara fisik, tapi juga batin.
Pernah nggak, di tengah kesibukan itu, kamu merasa “kosong”? Seolah-olah baterai hati kita sudah 1%, tapi kita malah memaksanya tetap menyala.
Di sinilah Muhasabah menjadi kunci.
Bukan, muhasabah bukan berarti kita harus duduk diam lalu menghakimi diri sendiri dengan keras, “Aku jahat banget, aku kurang ibadah, aku si pendosa.” Bukan itu maksudnya. Allah SWT justru memerintahkan kita untuk bercermin agar kita bisa menjadi versi terbaik diri kita. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Hashr: 18:
” Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…”
Ayat ini adalah pengingat bahwa muhasabah itu adalah “investasi masa depan.” Kita melihat ke belakang bukan untuk menyesali masa lalu, tapi untuk mengevaluasi apakah bekal kita sudah cukup untuk “hari esok.”
Muhasabah: Me-Time Bareng Sang Pencipta
Di zaman now, kita sering luangkan waktu buat healing ke kafe atau belanja online. Kenapa kita tidak coba healing yang sesungguhnya lewat muhasabah? Anggaplah muhasabah sebagai sesi curhat jujur dengan Allah. Kamu nggak perlu pencitraan di depan-Nya. Kamu boleh menangis, boleh mengeluh, boleh jujur kalau hari ini kamu merasa lemah.
Allah sendiri berfirman dalam QS. Al-Qiyamah: 14:
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.”
Artinya, kitalah yang paling tahu kondisi hati kita. Kalau kita jujur mengakui kelemahan kita di depan Allah, di sanalah letak penyembuhan (healing) itu terjadi. Ketika kita mengaku, “Ya Allah, aku capek karena terlalu mengejar validasi manusia,” saat itulah beban di pundak kita mulai terangkat.
Cara Mudah Memulai Muhasabah di Era Digital:
Digital Detox sejenak: Taruh HP-mu. Jauhkan dari notifikasi. Beri ruang bagi dirimu untuk bernapas tanpa gangguan dunia maya.
Jujur pada Perasaan: Tanya ke diri sendiri, “Apa yang membuat hatiku gelisah hari ini?” Apakah karena kurang bersyukur? Atau karena merasa belum cukup hebat?
Tawakal sebagai Penutup: Setelah sadar akan kekurangan, jangan stuck di rasa bersalah. Istighfar, lalu serahkan semuanya pada Allah. Tawakal adalah cara kita bilang ke Allah, “Ya Allah, aku lemah, tapi Engkau Maha Kuat. Bantu aku.”
Sebuah Quote untuk Renunganmu:
“Muhasabah bukanlah tempat untuk menghukum dirimu atas kesalahan masa lalu, melainkan tempat untuk memeluk dirimu dan berkata: ‘Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, mari kita perbaiki arahnya bersama Sang Pencipta.'”
Mari Refleksi Diri:
Sebelum kamu tidur malam ini, coba tutup matamu sejenak dan jawab tiga hal ini di dalam hati:
Apa kesalahan dan kekurangan yang aku lakukan hari in?
Apakah aku sudah memaafkan diriku sendiri atas kesalahan yang terjadi hari ini? Maka maafkanlah semuanya, bayangkan diri sendiri dalam versi terbaik. tersenyumlah
Satu hal kecil apa yang bisa aku perbaiki besok agar hatiku lebih tenang dan harapan apa yang ingin segera terwujud?
Ingat, Allah tidak menuntut kita menjadi
malaikat. Dia hanya ingin kita menjadi manusia yang selalu “pulang” kepada-Nya. Muhasabah adalah cara kita untuk memastikan bahwa sejauh apa pun kita melangkah, kita tetap berjalan di jalan-Nya.
Jadi, sudahkah kamu “pulang” kepada Allah hari ini?


