SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi–Lagu ”Nenek Moyangku”, “Naik Kereta Api”, “Menanam Jagung” dan karya Ibu Sud lainnya mengalun silih berganti di Gedung Juang 45 Kota Sukabumi, Ahad (17/5/2026) malam. Bukan sekadar pertunjukan musik, produksi ke-9 Ngajagi Kreasi Nusantara bertajuk Drama Musikal “Ibu Sud: Senada Senandika” menjadi perjalanan emosional yang membawa penonton kembali pada kenangan masa kecil sekaligus mengenang sosok Saridjah Niung atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Sud.
Di tangan Produser Rio Kamase bersama sutradara dan penulis Den Aslam, panggung sederhana di Gedung Juang berubah menjadi ruang nostalgia. Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak larut menyanyikan lagu-lagu yang selama puluhan tahun hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Bagi sebagian penonton, lagu-lagu karya Ibu Sud bukan hanya pengisi masa kecil, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang tumbuh tanpa terasa. Dari syair sederhana tentang desa, alam, hingga persahabatan, generasi Indonesia belajar mengenai cinta tanah air, kebersamaan, dan tenggang rasa.
Den Aslam mengatakan, pementasan musikal tersebut memiliki makna khusus karena Ibu Sud lahir dan tumbuh di Sukabumi. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para seniman lokal yang terlibat dalam produksi.
“Yang kami pentaskan hari ini adalah Musikal Ibu Sud. Ibu Sud itu lahir dan tumbuh di sini, di Sukabumi. Itu menjadi sesuatu bagi kami sebagai orang Sukabumi,” ujar Den Aslam seusai pertunjukan.
Menurut dia, banyak masyarakat belum mengetahui bahwa Ibu Sud merupakan salah satu komponis besar Indonesia yang mewarnai masa kecil lintas generasi. Lagu-lagu ciptaannya masih terus dinyanyikan dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.
Den Aslam mencontohkan lagu “Tanah Airku” yang kerap dinyanyikan masyarakat setelah pertandingan Tim Nasional Indonesia. Lagu tersebut, kata Den, menjadi bukti bahwa karya Ibu Sud tetap hidup dan relevan hingga kini.
“Ini jadi kebanggaan bagi saya pribadi sebagai penulis dan sutradara dalam Musikal Ibu Sud Senada Senandika,” katanya.

Di tengah gemerlap hiburan modern dan derasnya budaya digital, pertunjukan itu sekaligus menjadi pengingat akan semakin langkanya lagu anak-anak di Indonesia. Den menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi orang tua dan tenaga pendidik.
Den Aslam berharap masyarakat kembali memperkenalkan lagu-lagu anak kepada generasi sekarang. Sebab, menurut dia, lagu bukan sekadar hiburan, melainkan medium pendidikan yang efektif bagi perkembangan karakter anak.
“Mulai mencari lagi literasi lagu-lagu anak, terutama untuk orang tua dan guru-guru. Dari lagu-lagulah anak-anak dapat teredukasi, punya rasa tanggung jawab, rasa memiliki, hingga tenggang rasa,” ujarnya.
Sepanjang pertunjukan, tepuk tangan penonton berkali-kali memenuhi ruangan. Sejumlah penonton bahkan ikut bernyanyi ketika lagu “Desaku” dan “Menanam Jagung” dimainkan. Di wajah mereka terselip senyum yang sulit disembunyikan seolah masa kecil datang kembali lewat lirik-lirik sederhana yang tak lekang zaman.
Drama Musikal “Ibu Sud: Senada Senandika” bukan hanya penghormatan bagi seorang komponis legendaris. Lebih dari itu, pertunjukan tersebut menjadi pengingat bahwa lagu anak-anak pernah menjadi pondasi penting dalam membangun rasa kebangsaan dan kehangatan keluarga Indonesia.
