Demi Ngebul Terus, Sopir Angkot di Sukabumi Ini Akali BBM Pakai LPG 3 Kg, Hemat hingga Rp50 Ribu Sehari – SUKABUMI KINI

Selasa, 28 Juli 2026

Demi Ngebul Terus, Sopir Angkot di Sukabumi Ini Akali BBM Pakai LPG 3 Kg, Hemat hingga Rp50 Ribu Sehari

SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi–Di tengah tekanan biaya operasional yang kian menghimpit, cara tak biasa dan kreatif ditempuh Hendra Irawan (53 tahum), sopir angkutan kota (angkot) jurusan Sukaraja–Sukabumi. Ia memodifikasi kendaraannya agar dapat melaju menggunakan gas LPG 3 kilogram, sebuah langkah sederhana yang berdampak signifikan pada penghasilannya.

Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, Hendra tetap setia mengemudi menyusuri rute Sukaraja menuju pusat Kota Sukabumi. Namun, ada yang berbeda dari suara mesin angkotnya. Lebih halus, nyaris tanpa getaran kasar.

Di balik itu, tersimpan keputusan berani yang ia ambil beberapa waktu lalu meninggalkan ketergantungan penuh pada bensin.

“Awalnya ikut teman saja. Dia sudah pasang duluan, saya lihat-lihat, tanya-tanya soal kendala. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya coba,” ujar Hendra kepada wartawan, Selasa (14/4/2026). Keputusan itu bukan tanpa alasan.

Dalam sehari, Hendra bisa menghemat hingga Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu dibandingkan saat masih menggunakan bensin sepenuhnya. Jika sebelumnya biaya bahan bakar untuk empat kali perjalanan (rit) bisa mencapai Rp50 ribu, kini cukup dengan satu tabung LPG 3 kg seharga sekitar Rp19 ribu.

“Satu tabung bisa buat empat rit. Sehari paling banyak habis dua tabung. Jadi ada selisih lumayan dari pendapatan,” kata Hendra. Efisiensi tersebut memberi ruang napas baginya di tengah pendapatan yang tidak selalu stabil.

Penghematan harian itu, jika dikalkulasikan dalam sebulan, menjadi tambahan yang cukup berarti untuk kebutuhan rumah tangga. Menariknya, perubahan bahan bakar ini tidak diikuti dengan penurunan performa kendaraan.

Hendra justru merasakan mesin angkotnya bekerja lebih stabil. Ia mengaku tidak menemukan kendala berarti sejak beralih ke LPG.

”Sejauh ini tidak ada masalah. Karburator aman, tidak perlu sering servis. Pembakaran juga bagus, busi tidak cepat kotor seperti pakai bensin,” tuturnya.

Meski demikian, Hendra tetap mempertahankan penggunaan bensin sebagai cadangan. Baginya, langkah ini adalah bentuk antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi kendala di perjalanan.

Inovasi sederhana yang dilakukan Hendra menjadi gambaran bagaimana para pelaku transportasi informal beradaptasi di tengah tekanan ekonomi. Dengan kreativitas dan keberanian mencoba hal baru, ia tak hanya menjaga roda kendaraannya tetap berputar, tetapi juga memastikan dapur tetap mengepul. R.Ahmad

Berita Lainnya

Kategori Berita

Demi Ngebul Terus, Sopir Angkot di Sukabumi Ini Akali BBM Pakai LPG 3 Kg, Hemat hingga Rp50 Ribu Sehari

SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi–Di tengah tekanan biaya operasional yang kian menghimpit, cara tak biasa dan kreatif ditempuh Hendra Irawan (53 tahum), sopir angkutan kota (angkot) jurusan Sukaraja–Sukabumi. Ia memodifikasi kendaraannya agar dapat melaju menggunakan gas LPG 3 kilogram, sebuah langkah sederhana yang berdampak signifikan pada penghasilannya.

Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, Hendra tetap setia mengemudi menyusuri rute Sukaraja menuju pusat Kota Sukabumi. Namun, ada yang berbeda dari suara mesin angkotnya. Lebih halus, nyaris tanpa getaran kasar.

Di balik itu, tersimpan keputusan berani yang ia ambil beberapa waktu lalu meninggalkan ketergantungan penuh pada bensin.

“Awalnya ikut teman saja. Dia sudah pasang duluan, saya lihat-lihat, tanya-tanya soal kendala. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya coba,” ujar Hendra kepada wartawan, Selasa (14/4/2026). Keputusan itu bukan tanpa alasan.

Dalam sehari, Hendra bisa menghemat hingga Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu dibandingkan saat masih menggunakan bensin sepenuhnya. Jika sebelumnya biaya bahan bakar untuk empat kali perjalanan (rit) bisa mencapai Rp50 ribu, kini cukup dengan satu tabung LPG 3 kg seharga sekitar Rp19 ribu.

“Satu tabung bisa buat empat rit. Sehari paling banyak habis dua tabung. Jadi ada selisih lumayan dari pendapatan,” kata Hendra. Efisiensi tersebut memberi ruang napas baginya di tengah pendapatan yang tidak selalu stabil.

Penghematan harian itu, jika dikalkulasikan dalam sebulan, menjadi tambahan yang cukup berarti untuk kebutuhan rumah tangga. Menariknya, perubahan bahan bakar ini tidak diikuti dengan penurunan performa kendaraan.

Hendra justru merasakan mesin angkotnya bekerja lebih stabil. Ia mengaku tidak menemukan kendala berarti sejak beralih ke LPG.

”Sejauh ini tidak ada masalah. Karburator aman, tidak perlu sering servis. Pembakaran juga bagus, busi tidak cepat kotor seperti pakai bensin,” tuturnya.

Meski demikian, Hendra tetap mempertahankan penggunaan bensin sebagai cadangan. Baginya, langkah ini adalah bentuk antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi kendala di perjalanan.

Inovasi sederhana yang dilakukan Hendra menjadi gambaran bagaimana para pelaku transportasi informal beradaptasi di tengah tekanan ekonomi. Dengan kreativitas dan keberanian mencoba hal baru, ia tak hanya menjaga roda kendaraannya tetap berputar, tetapi juga memastikan dapur tetap mengepul. R.Ahmad

Berita Lainnya

IMG 20260727 WA0013
Menteri P2MI Pastikan Negara Hadir, Jenazah PMI Asal Sukabumi yang Meninggal di Arab Saudi Akan Dipulangkan
IMG 20260727 WA0033
Update Penanganan Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi: 160 Jiwa Mengungsi, Mayoritas Tinggal di Rumah Sanak Saudara
IMG 20260727 WA0020
Wali Kota Sukabumi Jadikan Penempatan Pekerja Migran Strategi Tekan Pengangguran
IMG 20260727 WA0018
International Job Fair di Sukabumi Dibuka Menteri P2MI, Pekerja Migran Didorong Naik Kelas ke Sektor Formal Global
IMG 20260726 WA0039
Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi : 51 Unit Rumah Rusak Berat, 159 Warga Mengungsi dan Hanguskan 49 Leuit

Kategori Berita

Scroll to Top
Scroll to Top