Siap Dirilis! Aplikasi AI “Warga Siaga” memperkuat Kesiapsiagaan Bencana di Masyarakat, Begini Cara Kerjanya – SUKABUMI KINI

Sabtu, 4 Juli 2026

Siap Dirilis! Aplikasi AI “Warga Siaga” memperkuat Kesiapsiagaan Bencana di Masyarakat, Begini Cara Kerjanya

SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi- Ada kabar baik bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana. Sebuah inovasi digital bernama Warga Siaga kini siap diluncurkan sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana. Penasaran seperti apa manfaatnya? Yuk, kita simak.

Aplikasi Warga Siaga merupakan hasil kolaborasi antara Palang Merah Indonesia (PMI) dan Yayasan Saka Warga Indonesia dalam menghadirkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat hingga tingkat desa.

Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat memperoleh informasi, edukasi, serta panduan praktis mengenai kesiapsiagaan bencana hanya dengan mengajukan pertanyaan melalui fitur AI. Berbagai informasi mulai dari langkah mitigasi, tindakan saat terjadi bencana, pertolongan pertama, hingga pemulihan pascabencana dapat diakses secara cepat dan mudah dipahami.

Tak hanya itu, Warga Siaga juga dirancang sebagai ruang belajar digital bagi para relawan, anggota SIBAT (Siaga Berbasis Masyarakat), perangkat desa, maupun masyarakat umum yang ingin meningkatkan kapasitas dalam pengurangan risiko bencana.

Peluncuran tahap awal aplikasi dijadwalkan berlangsung pada awal Juli 2026 dengan melibatkan sekitar 100 hingga 150 anggota SIBAT dari tujuh desa dampingan di Sukabumi. Implementasi tersebut menjadi langkah awal transformasi digital kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas yang dikembangkan melalui kolaborasi erat antara PMI, relawan SIBAT, serta para ahli kebencanaan.

Berbeda dengan aplikasi kebencanaan pada umumnya, Warga Siaga E-CBAT dibangun melalui pendekatan Human-Centered Design (HCD) atau desain yang berpusat pada pengguna. Seluruh proses pengembangannya melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran PMI Pusat, praktisi kebencanaan, fasilitator SIBAT, hingga relawan yang setiap hari mendampingi masyarakat di tingkat desa.

Melalui proses tersebut, aplikasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan sehingga mampu menjadi asisten digital bagi relawan dalam merencanakan, melaksanakan, dan memantau berbagai aktivitas kesiapsiagaan bencana.

“Aplikasi ini lahir dari pengalaman para relawan di lapangan. Teknologi kami hadir bukan untuk menggantikan peran manusia, tetapi memperkuat kapasitas Relawan SIBAT dalam mendampingi masyarakat agar semakin siap menghadapi berbagai ancaman bencana,” Ujar Alfan Kasdar tim pengembang Warga Siaga yang juga menjabat Direktur Yayasan Saka Warga Indonesia dalam kegiatan Pre-Release Meeting, sabtu (4/7/2026)

Dijelaskannya, Pengembangan aplikasi dimulai sejak Januari 2026 melalui serangkaian riset, penyusunan arsitektur AI, kurasi pengetahuan kebencanaan, pengumpulan data desa, hingga proses uji coba bersama relawan.

Menurut Alfan, Seluruh materi yang menjadi dasar rekomendasi AI telah melalui proses kurasi dan validasi oleh PMI sehingga setiap saran yang diberikan aplikasi tetap mengacu pada prinsip-prinsip kesiapsiagaan bencana yang berlaku.

Selain itu, data yang digunakan bukan berasal dari sumber umum, melainkan hasil Enhanced Vulnerability and Capacity Assessment (EVCA) yang dikumpulkan langsung oleh Relawan SIBAT di masing-masing desa.

“Pendekatan tersebut memungkinkan aplikasi memberikan rekomendasi yang lebih spesifik sesuai karakteristik, potensi ancaman, serta kapasitas setiap desa,” terang Alfan

Membantu Relawan Menyusun Rencana Aksi

Alfan Menambahkan, Warga Siaga E-CBAT menghadirkan berbagai fitur yang dirancang untuk mendukung aktivitas Relawan SIBAT, mulai dari analisis kondisi desa, penyusunan rencana aksi kesiapsiagaan, daftar tugas otomatis, pengingat kegiatan, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), hingga panduan menghadapi berbagai skenario bencana.

Seluruh proses tersebut dibantu teknologi AI yang bekerja berdasarkan basis pengetahuan kebencanaan dan data desa yang telah diverifikasi bersama PMI.

“Selain mendukung perencanaan, aplikasi juga dilengkapi sistem gamifikasi berupa poin bagi relawan maupun desa sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif dalam membangun budaya kesiapsiagaan,”terangnya

Melalui sistem tersebut diharapkan semangat relawan dapat terus terjaga, tidak hanya ketika terjadi bencana, tetapi juga dalam masa-masa normal melalui berbagai kegiatan edukasi, simulasi, dan pengurangan risiko bencana.

Telah Diuji Bersama Relawan

Sebelum resmi digunakan, seluruh fitur aplikasi telah melewati dua tahap codesign bersama perwakilan Relawan SIBAT dari tujuh desa.

Masukan dari relawan menjadi dasar penyempurnaan berbagai aspek aplikasi, mulai dari tampilan, kemudahan penggunaan, penyederhanaan alur, hingga penyempurnaan sistem poin dan penyusunan SOP kesiapsiagaan.

Tahapan tersebut dilakukan agar aplikasi benar-benar mudah digunakan oleh relawan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa.

Pendampingan Berkelanjutan

Pasca peluncuran, PMI bersama tim Warga Siaga akan melaksanakan Weekly Activation Sessions, yaitu pendampingan mingguan kepada seluruh pengguna aplikasi.

Kegiatan tersebut bertujuan memastikan aplikasi tidak hanya diunduh, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai alat pendukung aktivitas Relawan SIBAT dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

Selain menjadi ruang berbagi pengalaman antardesa, pendampingan tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi dan penyempurnaan aplikasi secara berkelanjutan.

Mendorong Desa Lebih Tangguh

PMI dan Yayasan Saka Warga Indonesia berharap implementasi tahap awal di Sukabumi dapat menjadi model pengembangan kesiapsiagaan berbasis teknologi yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

Melalui kolaborasi antara teknologi, pengetahuan kebencanaan, dan pengalaman relawan di lapangan, aplikasi Warga Siaga diharapkan mampu memperkuat budaya siap siaga di tingkat komunitas sekaligus mempercepat terwujudnya desa-desa yang tangguh terhadap bencana.

Mengusung semangat “Desa Tangguh Dimulai dari Kesiapsiagaan”, aplikasi ini menjadi wujud kolaborasi antara PMI, Relawan SIBAT, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan sebelum bencana terjadi.

“Sebab, kesiapsiagaan bukan hanya tentang merespons ketika bencana datang, tetapi tentang bagaimana masyarakat belajar, bersiap, dan bertindak bersama sejak dini untuk melindungi kehidupan dan mengurangi risiko di masa depan.” Pungkas Alfan

Berita Lainnya

Kategori Berita

Siap Dirilis! Aplikasi AI “Warga Siaga” memperkuat Kesiapsiagaan Bencana di Masyarakat, Begini Cara Kerjanya

SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi- Ada kabar baik bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana. Sebuah inovasi digital bernama Warga Siaga kini siap diluncurkan sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana. Penasaran seperti apa manfaatnya? Yuk, kita simak.

Aplikasi Warga Siaga merupakan hasil kolaborasi antara Palang Merah Indonesia (PMI) dan Yayasan Saka Warga Indonesia dalam menghadirkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat hingga tingkat desa.

Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat memperoleh informasi, edukasi, serta panduan praktis mengenai kesiapsiagaan bencana hanya dengan mengajukan pertanyaan melalui fitur AI. Berbagai informasi mulai dari langkah mitigasi, tindakan saat terjadi bencana, pertolongan pertama, hingga pemulihan pascabencana dapat diakses secara cepat dan mudah dipahami.

Tak hanya itu, Warga Siaga juga dirancang sebagai ruang belajar digital bagi para relawan, anggota SIBAT (Siaga Berbasis Masyarakat), perangkat desa, maupun masyarakat umum yang ingin meningkatkan kapasitas dalam pengurangan risiko bencana.

Peluncuran tahap awal aplikasi dijadwalkan berlangsung pada awal Juli 2026 dengan melibatkan sekitar 100 hingga 150 anggota SIBAT dari tujuh desa dampingan di Sukabumi. Implementasi tersebut menjadi langkah awal transformasi digital kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas yang dikembangkan melalui kolaborasi erat antara PMI, relawan SIBAT, serta para ahli kebencanaan.

Berbeda dengan aplikasi kebencanaan pada umumnya, Warga Siaga E-CBAT dibangun melalui pendekatan Human-Centered Design (HCD) atau desain yang berpusat pada pengguna. Seluruh proses pengembangannya melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran PMI Pusat, praktisi kebencanaan, fasilitator SIBAT, hingga relawan yang setiap hari mendampingi masyarakat di tingkat desa.

Melalui proses tersebut, aplikasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan sehingga mampu menjadi asisten digital bagi relawan dalam merencanakan, melaksanakan, dan memantau berbagai aktivitas kesiapsiagaan bencana.

“Aplikasi ini lahir dari pengalaman para relawan di lapangan. Teknologi kami hadir bukan untuk menggantikan peran manusia, tetapi memperkuat kapasitas Relawan SIBAT dalam mendampingi masyarakat agar semakin siap menghadapi berbagai ancaman bencana,” Ujar Alfan Kasdar tim pengembang Warga Siaga yang juga menjabat Direktur Yayasan Saka Warga Indonesia dalam kegiatan Pre-Release Meeting, sabtu (4/7/2026)

Dijelaskannya, Pengembangan aplikasi dimulai sejak Januari 2026 melalui serangkaian riset, penyusunan arsitektur AI, kurasi pengetahuan kebencanaan, pengumpulan data desa, hingga proses uji coba bersama relawan.

Menurut Alfan, Seluruh materi yang menjadi dasar rekomendasi AI telah melalui proses kurasi dan validasi oleh PMI sehingga setiap saran yang diberikan aplikasi tetap mengacu pada prinsip-prinsip kesiapsiagaan bencana yang berlaku.

Selain itu, data yang digunakan bukan berasal dari sumber umum, melainkan hasil Enhanced Vulnerability and Capacity Assessment (EVCA) yang dikumpulkan langsung oleh Relawan SIBAT di masing-masing desa.

“Pendekatan tersebut memungkinkan aplikasi memberikan rekomendasi yang lebih spesifik sesuai karakteristik, potensi ancaman, serta kapasitas setiap desa,” terang Alfan

Membantu Relawan Menyusun Rencana Aksi

Alfan Menambahkan, Warga Siaga E-CBAT menghadirkan berbagai fitur yang dirancang untuk mendukung aktivitas Relawan SIBAT, mulai dari analisis kondisi desa, penyusunan rencana aksi kesiapsiagaan, daftar tugas otomatis, pengingat kegiatan, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), hingga panduan menghadapi berbagai skenario bencana.

Seluruh proses tersebut dibantu teknologi AI yang bekerja berdasarkan basis pengetahuan kebencanaan dan data desa yang telah diverifikasi bersama PMI.

“Selain mendukung perencanaan, aplikasi juga dilengkapi sistem gamifikasi berupa poin bagi relawan maupun desa sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif dalam membangun budaya kesiapsiagaan,”terangnya

Melalui sistem tersebut diharapkan semangat relawan dapat terus terjaga, tidak hanya ketika terjadi bencana, tetapi juga dalam masa-masa normal melalui berbagai kegiatan edukasi, simulasi, dan pengurangan risiko bencana.

Telah Diuji Bersama Relawan

Sebelum resmi digunakan, seluruh fitur aplikasi telah melewati dua tahap codesign bersama perwakilan Relawan SIBAT dari tujuh desa.

Masukan dari relawan menjadi dasar penyempurnaan berbagai aspek aplikasi, mulai dari tampilan, kemudahan penggunaan, penyederhanaan alur, hingga penyempurnaan sistem poin dan penyusunan SOP kesiapsiagaan.

Tahapan tersebut dilakukan agar aplikasi benar-benar mudah digunakan oleh relawan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa.

Pendampingan Berkelanjutan

Pasca peluncuran, PMI bersama tim Warga Siaga akan melaksanakan Weekly Activation Sessions, yaitu pendampingan mingguan kepada seluruh pengguna aplikasi.

Kegiatan tersebut bertujuan memastikan aplikasi tidak hanya diunduh, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai alat pendukung aktivitas Relawan SIBAT dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

Selain menjadi ruang berbagi pengalaman antardesa, pendampingan tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi dan penyempurnaan aplikasi secara berkelanjutan.

Mendorong Desa Lebih Tangguh

PMI dan Yayasan Saka Warga Indonesia berharap implementasi tahap awal di Sukabumi dapat menjadi model pengembangan kesiapsiagaan berbasis teknologi yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

Melalui kolaborasi antara teknologi, pengetahuan kebencanaan, dan pengalaman relawan di lapangan, aplikasi Warga Siaga diharapkan mampu memperkuat budaya siap siaga di tingkat komunitas sekaligus mempercepat terwujudnya desa-desa yang tangguh terhadap bencana.

Mengusung semangat “Desa Tangguh Dimulai dari Kesiapsiagaan”, aplikasi ini menjadi wujud kolaborasi antara PMI, Relawan SIBAT, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan sebelum bencana terjadi.

“Sebab, kesiapsiagaan bukan hanya tentang merespons ketika bencana datang, tetapi tentang bagaimana masyarakat belajar, bersiap, dan bertindak bersama sejak dini untuk melindungi kehidupan dan mengurangi risiko di masa depan.” Pungkas Alfan

Berita Lainnya

WhatsApp Image 2026 07 03 At 19.33
Siap Dirilis! Aplikasi AI “Warga Siaga” memperkuat Kesiapsiagaan Bencana di Masyarakat, Begini Cara Kerjanya
Screenshot 20260703 195532 Instagram
BMKG : Hampir Separuh Wilayah Indonesia Masuki Musim Kemarau
IMG 20260703 WA0025
Ketua DPRD Kota Sukabumi Kang Wanju : Madrasah Diniyah Jadi Pondasi Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini
IMG 20260703 WA0023
Akselerasi Satu Data Indonesia, Pemkot Sukabumi Sinkronkan Data Lintas Sektor
FB IMG 1783062170508
Disdukcapil Sukabumi Jemput Bola Rekam KTP-el bagi Lansia dan Penyandang Disabilitas

Kategori Berita

Scroll to Top
Scroll to Top