SUKABUMIKINI.COM, Sukabumi–Sebanyak 118 kejadian bencana terjadi di Kota Sukabumi dalam rentang waktu Januari hingga Maret 2026. Hal ini didasarkan dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi.
Dari total kejadian tersebut, kerugian ditaksir mencapai Rp 5,01 miliar dengan ribuan warga terdampak di tujuh kecamatan. Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin mengatakan, bencana yang terjadi selama triwulan pertama didominasi cuaca ekstrem.
âDari Januari sampai Maret, total ada 118 kejadian bencana yang tersebar di tujuh kecamatan,” ujar Yoseph, Jumat (10/4/2026). Di mana, dampaknya cukup besar, baik terhadap warga maupun kerusakan infrastruktur.
Yoseph menyebutkan, sebanyak 3.382 jiwa dan 100 kepala keluarga terdampak. Selain itu, tercatat 101 unit bangunan rusak ringan, 20 rusak sedang, 15 rusak berat, dan 66 unit lainnya terdampak ringan.
Khusus pada Maret 2026 terang Yoseph, PBD mencatat 46 kejadian bencana, dengan rincian 40 cuaca ekstrem, tiga gempa bumi, dua kebakaran permukiman, dan satu tanah longsor. Untuk nilai kerugian pada Maret terbesar timbul akibat cuaca eksÂtrem yang mencapai Rp 2,35 miliar, dengan luas area terdampak sekitar 1.592 meter persegi.
Sementara kebakaran permukiman menyeÂbabÂkan kerugian Rp 2,35 miÂliar, tanah longsor Rp 231 juta, dan gempa bumi Rp 64,5 juta. Untuk wilayah dengan kejadian bencana tertinggi masih berada di Kecamatan Baros dengan 24 kejadian, Gunung Puyuh dan Warudoyong, masing-masing 18 kejadian, Lembursitu dan Cikole masing-masing 16 kejadian, Citamiang 14 kejadian, serta Cibeureum 12 kejadian.
” BPBD telah melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari prabencana, tanggap darurat, hingga pascaÂbencana,” cetus Yoseph. Mulai dari penerbitan status siaga darurat, koordinasi lintas instansi, pendirian posko siaga, distribusi bantuan logistik, hingga edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Selain itu lanjut Yoseph, upaya mitigasi harus terus diperkuat dan tetap mengimbau masyarakat waspada. Terutama saat hujan deras, angin kencang, maupun potensi longsor karena kesiapsiagaan warga menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bencana.
